Ilu3: Aneh, Tapi Nyata
Aneh Namun Sesungguhnya Terjadi
Saya turun dari kereta api uap sekitar jam dua belas tengah malam. Perjalanan itu sangat melelahkan karena kereta yang seharusnya berangkat jam lima sore baru datang jam setengah sembilan malam. Perjalanannya pun lambat karena lokomotif uap yang sudah tua itu sempat mogok di jalan. Ketika sampai di rumah orang tua teman, ternyata teman saya sudah pergi lebih dulu ke kota tempat kami kuliah. Malam itu saya masih harus mengambil ijazah asli di rumah guru menggambar yang bertugas menulis nama-nama lulusan SMA. Walaupun capai, saya merasa senang karena sudah berhasil kuliah. Sebagai syarat ujian kenaikan tingkat, mahasiswa memang harus menyerahkan ijazah asli ke bagian administrasi kampus.
Pagi-pagi benar jam setengah empat saya sudah bangun. Usai mandi, saya bergegas ke terminal untuk naik bus menuju kota tempat kuliah. Sebelum berangkat, seorang bapak muda yang ramah mengajak saya minum kopi. Dia mengaku akan pergi ke kota tujuan yang sama dan alamatnya dekat dengan rumah saudara saya, sehingga saya percaya saja. Usai minum kopi, saya menolak dibayarkan lalu membayar sendiri. Saya membiarkan bapak itu mengangkat koper saya dan tasnya ke bagasi atas bus. Bapak itu kemudian duduk di kursi belakang, sedangkan saya duduk di bagian tengah sambil memegang ransel. Di perjalanan, saya tertidur pulas dan tidak merasakan apa-apa lagi kendati jalanan banyak yang rusak. Saat tengah hari, bus berhenti karena harus bergantian jalan dengan kendaraan dari arah depan.
Ketika saya menengok ke belakang, bapak yang tadi minum kopi bersama sudah tidak ada. Penumpang lain turun saat bus berhenti, namun bapak itu tidak juga kelihatan. Saya mulai curiga. Saya meminta kenek bus naik ke bagasi atas untuk memeriksa koper saya. Ternyata koper saya sudah hilang diambil oleh bapak yang berpura-pura baik hati tadi. Menjelang kota tujuan, bus berhenti di pos polisi dan saya segera melaporkan kehilangan itu. Saat tiba di tempat tujuan, saya hanya membawa sebuah ransel berisi ijazah dan beberapa barang penting. Penipu itu pasti kecewa karena isi koper saya hanya pakaian, buku bacaan, lauk-pauk, serta sebungkus daun pepaya mentah pesanan kakak perempuan saya.
Memang malam sebelum berangkat, saya bermimpi kehilangan koper. Oleh karena itu, saya sengaja meletakkan barang-barang yang lebih penting ke dalam ransel. Termasuk ijazah asli yang baru saya ambil juga saya simpan di dalam ransel. Bersyukur meskipun kehilangan koper, ijazah asli saya tidak ikut hilang. Rupanya mimpi yang saya alami menjadi peringatan agar saya berhati-hati. Saat itu saya belum menjadi orang Kristen yang sungguh-sungguh lahir baru. Walaupun demikian, TUHAN berbelas kasihan menyatakan diri-Nya kepada saya agar saya memahami keberadaan dan kepedulian-Nya. [CSW; info identitasnya]
Yesaya 65 ayat 1 "Aku telah berkenan memberi petunjuk kepada orang yang tidak menanyakan Aku; Aku telah berkenan ditemukan oleh orang yang tidak mencari Aku. Aku telah berkata: “Ini Aku, ini Aku!” kepada bangsa yang tidak memanggil nama-Ku."
Profil Penyusun Ilustrasi
Chris Wartomo (Alm.), seorang Pendeta alumni STBI (Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia) di Semarang, yang banyak melakukan pelayanan di daerah Banyumas, Jawa Tengah. Beliau juga telah banyak menyusun buku kumpulan ilustrasi. Almarhum telah menghubungi Dwi Ariefin untuk meminta mempublikasikan karya-karyanya.