Ilu5: Tenggelam ke Palung yang Dalam
Tenggelam ke Palung yang Dalam
Hujan sudah tidak turun selama beberapa bulan. Pepohonan mulai meranggas dan rumput kering menguning. Seharusnya musim kemarau saat itu sudah usai, namun hujan tidak kunjung datang. Saluran irigasi bekas pengairan tebu zaman Belanda juga kering. Padahal saluran itu biasanya dipakai untuk mengalirkan air ke sawah petani. Adanya saluran itu juga membuat sumur di daerah kami terisi air. Walaupun air irigasi keruh, air sumur kami tetap jernih karena tersaring tanah secara alami. Saat itu belum ada listrik maupun aliran air minum di desa kami. Penduduk sudah memperdalam sumur masing-masing, tetapi air tetap kurang akibat kemarau panjang.
Air sumur untuk minum masih ada, walaupun kami harus menimbanya dari bagian yang sangat dalam. Karena sudah bekerja dan belum beristri, saya harus mencuci pakaian sendiri untuk dinas esok hari. Saya pergi ke tepi sungai yang jaraknya sekitar tujuh ratus meter dari rumah. Di dekat aliran sungai masih banyak pohon dan rumpun bambu. Di sana terdapat tiga pancuran air dan dua mata air yang letaknya berjauhan. Warga biasanya mencuci pakaian di tempat-tempat itu. Hari itu, saya memilih mencuci di salah satu mata air pinggir sungai. Jalan ke sana agak rumit karena melewati kebun rimbun di sebelah kuburan desa. Setelah menuruni undakan tanah yang terjal, sampailah saya di mata air kecil di samping sungai yang mengalir tenang.
Saya mulai mencuci pakaian sendirian karena tempatnya yang curam jarang disukai orang. Selesai mencuci dan membilas, saya tertarik untuk mandi di sungai karena airnya agak jernih akibat kemarau. Biasanya saya mandi di bagian sungai yang lain, sedangkan di tempat ini saya belum terbiasa. Begitu terjun ke dalam air, tubuh saya mendadak tertarik ke bawah. Rupanya saya masuk ke dalam palung sungai yang dalam. Dalam keadaan sadar, saya mulai merasakan dinginnya air dan tidak bisa melihat apa-apa lagi. Rasa takut mulai muncul kalau-kalau ada buaya menyerang. Sebab dulu pernah ada seekor buaya yang ditembak polisi di desa sebelah hilir karena mengganggu orang mandi.
Sebagai orang yang baru saja mengenal Tuhan Yesus, saya langsung berseru: "Tuhan Yesus tolong!" Tiba-tiba saya teringat nasihat teman yang pandai berenang. Saya segera menggerakkan kedua telapak tangan dan kaki untuk menekan air ke bawah. Tubuh saya mulai bisa melawan tarikan air hingga berhasil muncul ke permukaan. Setelah menepi, saya mengambil napas panjang dan bersyukur kepada TUHAN karena telah menyelamatkan saya dari bahaya tenggelam.
Kejadian ini mengingatkan saya pada masa kecil waktu berumur sepuluh tahun. Saat bermain sendirian di pinggir rawa, saya terperosok ke dalam air lumpur. Semakin keras saya berusaha, lumpur itu justru semakin menyedot tubuh saya. Beruntung saya bisa berpegangan pada tanaman di pinggir rawa sehingga bisa keluar dengan selamat. Melalui peristiwa di palung sungai ini, TUHAN kembali menunjukkan pertolongan-Nya yang nyata bagi orang yang berseru kepada-Nya. [CSW; info identitasnya]
Matius 14 ayat 31 "Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: 'Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?'"
Profil Penyusun Ilustrasi
Chris Wartomo (Alm.), seorang Pendeta alumni STBI (Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia) di Semarang, yang banyak melakukan pelayanan di daerah Banyumas, Jawa Tengah. Beliau juga telah banyak menyusun buku kumpulan ilustrasi. Almarhum telah menghubungi Dwi Ariefin untuk meminta mempublikasikan karya-karyanya.