Ilu9: Ketaatan bukan Mantera
Ketaatan bukan Mantera.
Saya baru beberapa bulan kuliah di seminari sambil menjalankan pelayanan mingguan di sebuah desa pegunungan. Sebagai orang Kristen baru, saya masih terpengaruh kebiasaan masyarakat saat berpuasa. Waktu itu, setelah berdoa dan berpuasa pada siang hari, saya hanya makan nasi sekepal dengan sedikit labu rebus dan minum air putih.
Ketika malam hari di luar hari Minggu, saya memimpin ibadah rumah tangga di rumah Pak Ang Khun. Anaknya sudah menjadi anggota gereja. Beliau adalah satu-satunya orang Tionghoa yang tinggal menetap di dusun itu karena menikah dengan warga setempat. Selesai ibadah, Pak Ang Khun meminta didoakan agar sembuh dari penyakit eksim basah yang sudah menahun. Saat gejalanya muncul, kulitnya terasa sangat gatal hingga mengeluarkan cairan berbau busuk. Beliau sudah mengeluarkan banyak biaya untuk berobat ke berbagai dukun dan tabib, namun usahanya sia-sia.
Sebagai mahasiswa baru, saya ingin meniru tokoh iman yang pernah dipakai TUHAN. Saat itu saya sering menerima kiriman bacaan Kristen dari tim pelayanan T.L. Osborn. Beliau sering mengadakan KKR kesembuhan ilahi di berbagai negara, termasuk di ibu kota negara kami. Ketika saya sempat ragu untuk bertindak, TUHAN mengingatkan hati saya untuk menyembuhkan orang sakit dengan ketulusan.
Saya menjelaskan kepada Pak Ang Khun bahwa saya bukan dukun dan tidak bisa menyembuhkan dengan kekuatan sendiri. Lalu saya menceritakan tentang pribadi Yesus Kristus yang datang untuk menyelamatkan manusia. Apa yang saya sampaikan adalah inti berita Injil. Tuhan Yesus pasti menolong jika beliau percaya dan menerima-Nya sebagai Juruselamat pribadi.
Karena Pak Ang Khun percaya, saya bersedia mendoakannya. Sebelum berdoa, saya meminta mereka menyediakan sedikit minyak kelapa. Saat itu saya belum memahami arti pengurapan minyak seperti dalam Alkitab. Kelak setelah belajar di seminari, baru saya tahu bahwa minyak zaitun sering dipakai sebagai obat dan lambang kehadiran Roh Kudus.
Bersama beberapa anggota jemaat yang hadir, kami mengoleskan minyak lalu menumpangkan tangan di bagian belakang lehernya. Kemudian saya memimpin doa. Selesai berdoa, seorang bapak bersaksi bahwa tangannya seperti dialiri daya listrik, sedangkan seorang ibu melihat hal gaib yang menjijikkan keluar dari tubuh Pak Ang Khun. Saya sendiri yang memimpin doa tidak melihat atau merasakan hal aneh apa pun.
Hari berikutnya, Pak Ang Khun benar-benar disembuhkan oleh TUHAN. Beliau dan istrinya menjadi rajin beribadah setiap minggu. Namun, beberapa waktu kemudian, ada orang-orang yang menghasut dan mengancam mereka agar tidak menjadi orang Kristen. Pak Ang Khun dan istrinya menjadi takut. Sejak saat itu, mereka tidak pernah datang lagi ke persekutuan ibadah, hingga akhirnya penyakit eksim beliau kambuh kembali. [CSW; info identitasnya]
Matius 10 ayat 8 "Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah menerima dengan cuma-cuma, berilah juga dengan cuma-cuma."
Profil Penyusun Ilustrasi
Chris Wartomo (Alm.), seorang Pendeta alumni STBI (Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia) di Semarang, yang banyak melakukan pelayanan di daerah Banyumas, Jawa Tengah. Beliau juga telah banyak menyusun buku kumpulan ilustrasi. Almarhum telah menghubungi Dwi Ariefin untuk meminta mempublikasikan karya-karyanya.