Ilu8: Langka Kendaraan, Ya Jalan Kaki
Langka Kendaraan, Ya Jalan Kaki
Every Jumat siang usai kuliah, semua mahasiswa bersiap pergi ke tempat pelayanan masing-masing. Teman-teman yang praktik di dalam kota dan jemaat sekitar masih asyik berlatih paduan suara. Sementara saya yang kebagian praktik di tempat jauh, sekitar dua ratus kilometer dari kampus, harus bersiap mencari bus. Saat itu kendaraan umum masih sangat sedikit. Sering kali saya makan siang dengan tergesa-gesa hingga perut mual karena takut ketinggalan bus. Saya bahkan harus berlari mengejar bus yang mulai berjalan perlahan.
Waktu masih tingkat pertama, ada empat mahasiswa yang praktik di daerah yang sama. Kadang kami naik bus ke sebuah kota, lalu melanjutkan dengan kereta api. Setelah turun, kami naik kendaraan seadanya karena hari sudah malam. Ternyata kendaraan itu tidak melewati jalur tempat pelayanan kami. Akhirnya kami berempat melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki melewati dua desa dan perbukitan karet. Malam itu kami menumpang tidur di rumah warga jemaat di desa bawah hutan karet.
Pada lain kesempatan lewat jalur tengah, saya dan seorang kakak kelas naik kendaraan umum yang sambung-menyambung. Ketika sampai di sebuah kota, ternyata kendaraan sudah tidak ada lagi. Akhirnya kami berdua berjalan kaki sepanjang tiga puluh kilometer. Saya menginap di rumah orang tua, sedangkan kakak kelas menginap di rumah kos tempat pelayanan. Sabtu pagi, saya masih harus melanjutkan perjalanan ke tempat pelayanan memakai kendaraan umum. Pergi melayani dengan berjalan kaki atau naik sepeda sudah biasa bagi mahasiswa saat itu karena belum ada yang memiliki sepeda motor.
Ketika tingkat terakhir, saya pergi ke tempat pelayanan sendirian karena beberapa kakak kelas sudah pindah praktik setelah lulus. Saya tetap menjalankan pelayanan akhir pekan. Hari Jumat naik kendaraan umum ke tempat praktik, lalu hari Sabtu dan Minggu mengadakan kunjungan serta memimpin ibadah. Ibadah pagi diadakan di kota kecamatan, sedangkan sore hari di desa atas dekat perbukitan karet. Hari Senin pagi-pagi sekali, saya harus segera kembali ke kampus naik bus umum.
Suatu Jumat siang jam tiga, saya turun dari bus dan menunggu bus lain di sebuah simpang tiga. Sampai jam setengah lima sore, ternyata sudah tidak ada lagi kendaraan umum. Akhirnya saya menyetop truk yang membawa angkutan kayu. Karena bagian depan sudah penuh oleh sopir dan kenek, saya terpaksa naik di atas tumpukan kayu. Jalur menuju kota tujuan masih sekitar tujuh puluh kilometer melewati daerah pegunungan. Ketika melewati celah di antara dua gunung, hujan gerimis turun. Saya berusaha menutupi tubuh memakai tas dan jaket. Air hujan dan hawa dingin pegunungan di kala malam membuat tubuh saya menggigil, namun saya tetap sehat sampai di tujuan.
Keadaan berat di perjalanan lama-kelamaan menjadi hal biasa. Saya tidak menganggapnya sebagai penderitaan jika membandingkan dengan pengorbanan Tuhan Yesus dan perjalanan rasul Paulus. Pernah suatu kali saya harus menempuh jalan kaki sepuluh kilometer lagi menuju tempat pelayanan. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Tiba-tiba seorang pengendara sepeda motor berhenti di hadapan saya. Ternyata dia adalah seorang kenalan di tempat pelayanan. Setelah saya jelaskan bahwa kendaraan umum sudah habis, TUHAN memakai kenalan saya itu untuk mengantar saya sampai ke tempat tujuan. Dalam segala keadaan, kasih karunia TUHAN selalu cukup bagi kita. [CSW; info identitasnya]
2 Korintus 12 ayat 9 & Filipi 4 ayat 13 "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna... Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku."
Profil Penyusun Ilustrasi
Chris Wartomo (Alm.), seorang Pendeta alumni STBI (Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia) di Semarang, yang banyak melakukan pelayanan di daerah Banyumas, Jawa Tengah. Beliau juga telah banyak menyusun buku kumpulan ilustrasi. Almarhum telah menghubungi Dwi Ariefin untuk meminta mempublikasikan karya-karyanya.