Mohon tunggu sejenak...

Mohon tunggu sejenak...

Ilu1:Tersesat Namun Dituntun Hikmat

Tersesat Namun Dituntun Hikmat

Ilustrasi

Saat liburan kampus, saya mendapat tugas pelayanan di sebuah desa yang berbeda daerah. Karena belum ada transportasi, perjalanan ke desa itu saya tempuh dengan jalan kaki sejauh empat kilometer setelah turun dari bus di jalan besar. Usai pelayanan sore di sana, saya masih harus berjalan kaki duabelas kilometer lagi menuju tempat penyeberangan untuk pelayanan malam di desa lain. Hari-hari selanjutnya, saya membina beberapa kelompok baru di tiga tempat serta sebuah jemaat baru menggunakan sepeda.

Pelayanan di desa pertama dijalankan sore hari di rumah seorang simpatisan. Sembari menunggu warga berkumpul seusai pulang dari sawah, saya mengadakan kunjungan ke rumah-rumah termasuk ke rumah kepala desa untuk memperkenalkan diri. Memang tidak selalu sempat menabur benih kebenaran. Saya hanya ingin mengenal lebih dulu bagaimana cara hidup masyarakat di sana.

Pada suatu kesempatan, saya salah jalan dan memasuki rumah seorang pemuka agama setempat. Setelah saya memperkenalkan diri, beliau menyambut saya dengan raut muka masam. Beliau berkata bahwa orang di desa itu sudah memeluk agama dan tidak membutuhkan penjelasan tentang agama baru. Saya berdoa dalam hati agar bisa menjawab dengan tenang, sopan, dan penuh hikmat dari Tuhan. Saya menjelaskan bahwa saya bukan hendak menyebarkan agama Kristen. Saya hanya membagikan terang yang sudah saya terima kepada siapa saja yang mau menyambutnya. Hanya Tuhan yang dapat menggerakkan hati seseorang untuk percaya.

Beliau kemudian mengajukan beberapa pertanyaan menyangkut ajaran dasar kekristenan, seperti sebutan Yesus selaku Anak Allah, sebutan bunda Allah, hingga tentang Tritunggal. Berkat hikmat dari Tuhan, saya dapat memberikan jawaban yang sopan sehingga beliau mau menghargai perbedaan pemahaman di antara kami. Beliau mulai tersenyum dan melanjutkan perbincangan. Bahkan sebelum pamit, saya disajikan kopi dan pisang goreng hangat. Sejak saat itu, setiap saya jalan kaki melewati desanya, beliau selalu melambaikan tangan dan menyampaikan salam. [CSW; info identitasnya]

1 Petrus 3 ayat 15 "Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat."

×

Profil Penyusun Ilustrasi

Chris Wartomo (Alm.), seorang Pendeta alumni STBI (Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia) di Semarang, yang banyak melakukan pelayanan di daerah Banyumas, Jawa Tengah. Beliau juga telah banyak menyusun buku kumpulan ilustrasi. Almarhum telah menghubungi Dwi Ariefin untuk meminta mempublikasikan karya-karyanya.