TI-007: Bagaimana tetap setia beriman ketika hadapi tantangan?
Menerima pembaptisan air bukan berarti seorang Kristen akan otomatis terbebas dari segala penderitaan, persoalan, dan kesulitan hidup. Menjadi pengikut Kristus sejati justru membawa konsekuensi rohani berupa ujian iman serta peperangan rohani melawan tipu daya kuasa gelap. Kemenangan iman diraih dengan bersandar penuh pada pengharapan kekal di dalam Tuhan serta tekun mengenakan seluruh perlengkapan senjata rohani dari Allah.
Setelah seseorang bertobat, percaya, dan menerima pembaptisan air, bukan berarti ia akan langsung terbebas dari segala masalah hidup. Banyak orang Kristen baru mengalami kebingungan ketika mendapati bahwa tantangan dan penderitaan ternyata masih ada. Mengapa Tuhan mengizinkan penderitaan menimpa umat-Nya? Bagaimana cara kita menghadapinya?
Kitab Suci menegaskan bahwa berjuang untuk menang atas masalah dan tantangan jauh lebih penting daripada sekadar berpuas diri menyandang status sebagai orang Kristen (Wahyu 2:10). Berdasarkan pengajaran firman Tuhan, keteguhan iman menghadapi tantangan dapat dipahami melalui tiga dasar rohani:
1. Memahami Makna Penderitaan Kristen
Menjadi Kristen bukan berarti kebal terhadap rasa sakit atau air mata. Penderitaan tubuh berupa sakit penyakit atau kesusahan ekonomi bisa dialami oleh siapa saja karena faktor kelemahan tubuh alami manusia (Mazmur 90:10). Namun, bagi pengikut Kristus, penderitaan memiliki makna rohani yang mendalam jika itu dialami bukan karena melakukan kejahatan, melainkan sebagai risiko akibat mempertahankan iman (1 Petrus 2:21). Tuhan memakai penderitaan dan cobaan hidup sebagai sarana ujian iman untuk menumbuhkan ketekunan, memurnikan karakter, dan mendewasakan kerohanian kita. Menghadapi penderitaan ini, umat percaya diajak untuk terus bersekutu erat dengan Tuhan serta senantiasa mengucap syukur dalam segala keadaan (1 Tesalonika 5:18).
2. Memiliki Pengharapan dan Keyakinan Hidup Mendatang
Ketika mengalami penindasan, manusia membutuhkan kepastian jaminan masa depan. Pengharapan Kristen sangat kokoh karena tidak bertumpu pada kemampuan manusia atau keadaan dunia yang labil, melainkan diletakkan sepenuhnya pada kedaulatan Tuhan (Roma 12:12). Umat percaya memiliki keyakinan teguh tentang hidup setelah mati. Kematian tubuh jasmani bukanlah akhir dari segalanya, melainkan pintu gerbang menuju kebahagiaan surgawi sejati (Yohanes 11:25). Setiap orang yang mati di dalam Kristus dijamin akan bangkit dan hidup bersama Tuhan Allah selama-lamanya di surga, di mana segala air mata, sakit, dan kutuk dosa telah dihapuskan secara sempurna (1 Tesalonika 4:14).
3. Siap Menghadapi Peperangan Rohani
Tantangan iman sering kali muncul karena adanya serangan aktif dari musuh rohani, yaitu Iblis beserta kuasa kegelapan yang terus berusaha menjatuhkan iman orang percaya (Efesus 6:12). Ini adalah peperangan rohani yang nyata. Kekalahan fisik atau bahkan kematian martir di bumi hanya berakibat sementara, tetapi kekalahan rohani berdampak fatal bagi kekekalan. Agar mampu memenangkan peperangan rohani ini, setiap orang Kristen diwajibkan secara aktif mengenakan seluruh perlengkapan senjata rohani dari Allah (Efesus 6:13-17). Perlengkapan perang tersebut meliputi: ikat pinggang kebenaran, baju zirah keadilan, kasut kerelaan memberitakan Injil, perisai iman untuk memadamkan panah api jahat, ketopong keselamatan untuk melindungi pikiran, serta pedang Roh yaitu Firman Allah yang hidup.
Kesimpulan
Setia beriman di tengah tantangan adalah bukti kualitas kemuridan kita. Jangan goyah oleh penderitaan, cobaan hidup, ataupun intimidasi kuasa kegelapan. Dengan bersandar pada pengharapan kekal akan surga serta disiplin mengenakan senjata Firman Tuhan setiap hari, kita dipastikan keluar sebagai pemenang dalam mengiring Yesus Kristus hingga akhir hayat (Filipi 1:29).
Penulis Penelaah: [DAS]
Mazmur 90:10; Yohanes 11:25; Roma 12:12; 1 Tesalonika 4:14; 5:18; Efesus 6:12-17; Filipi 1:29; Yakobus 1:12; Wahyu 2:10.