Mohon tunggu sejenak...

Mohon tunggu sejenak...

TT2:Akar Masalah

Ilustrasi Jalan
🔊 Hikmat Suara: Dengarkan artikel ini dibacakan.

Mencari Akar Masalah: Antara Kelemahan Diri dan Dampak Sesama

Oleh: Dwi Ariefin* | Januari 2025

Ketika kegagalan melanda atau masalah datang bertubi-tubi, kecenderungan alami manusia adalah segera mencari siapa yang bersalah. Namun, Alkitab mengajarkan kita untuk melihat sebuah persoalan dengan kearifan yang utuh. Sebuah masalah atau kegagalan dalam hidup kerap kali tidak berdiri tunggal, melainkan bisa disebabkan oleh berbagai faktor yang saling berkaitan[cite: 35, 59].

1. Karena Dampak Orang Lain dan Kesalahan Bersama

Kita hidup dalam sebuah komunitas yang saling terhubung[cite: 38]. Oleh karena itu, sadar atau tidak, kegagalan yang kita alami bisa jadi merupakan imbas dari tindakan orang lain atau akibat dari kesalahan yang dilakukan secara bersama-sama[cite: 35, 36]. Alkitab mencatat dengan sangat jelas bagaimana pelanggaran satu orang dapat melumpuhkan seluruh barisan bangsa[cite: 37, 38].

"Tetapi orang Israel berubah setia dengan mengambil barang-barang yang dikhususkan itu; sebab Akhan bin Karmi bin Zabdi bin Zerah, dari suku Yehuda, mengambil sesuatu dari barang-barang yang dikhususkan itu. Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap orang Israel."

— Yosua 7:1

Kisah Akhan di atas menjadi peringatan keras bahwa egoisme atau ketidaksetiaan satu orang anggota dapat mendatangkan kegagalan bagi seluruh komunitas[cite: 37, 38]. Hal serupa juga terlihat dalam keputusan gegabah seorang pemimpin, seperti kisah Raja Saul yang menjatuhkan kutuk serampangan kepada pasukannya[cite: 39]. Akibat keputusan sepihak yang salah tersebut, seluruh rakyat menjadi kelelahan, kehilangan daya tempur, dan kemenangan yang seharusnya bisa dicapai dengan gemilang akhirnya menjadi terhambat[cite: 39].

2. Karena Keterbatasan dan Kelemahan Manusiawi

Selain faktor lingkungan eksternal, kita juga harus berani bercermin pada hakikat kedirian kita[cite: 40]. Manusia pada dasarnya memiliki keterbatasan fisik, emosional, maupun rohani[cite: 42, 44]. Kegagalan tidak jarang hadir semata-mata karena kita hanyalah makhluk yang rapuh dan penuh dengan kelemahan[cite: 42].

"Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu."

— Mazmur 103:14

TUHAN sangat memahami keterbatasan kita yang diibaratkan seperti debu[cite: 41]. Rasul Paulus pun merefleksikan pergumulan batin yang serupa mengenai betapa beratnya perjuangan kedirian manusia melawan kelemahan moral dan kedagingannya sendiri[cite: 43]. Ketidakmampuan kita dalam menghadapi dosa, keterbatasan pengetahuan, serta kerentanan kita dalam menghadapi tekanan hidup sering kali menjadi pintu masuk utama bagi terjadinya kegagalan[cite: 44].

Menyadari kedua faktor awal ini—imbas tindakan sesama dan kerapuhan diri sendiri [cite: 36, 40]—membantu kita untuk tidak terburu-buru menghakimi keadaan secara sempit, melainkan membawa kita pada kerendahan hati untuk terus mencari hikmat yang sejati dari atas.


*Dwi Ariefin adalah seorang Pendeta di gereja Baptis yang berpengalaman menggembalakan di beberapa jemaat. Telaah ini disusun khusus sebagai tanggapan pastoral atas pertanyaan dan pergumulan yang disampaikan oleh salah seorang jemaat.

Rujukan Studi & Dokumen Pendukung:

  • Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Alkitab Terjemahan Baru (TB) — Referensi Teks: Yosua 7:1, 1 Samuel 14:24-30, Mazmur 103:14, Roma 7:18-20[cite: 37, 39, 41, 43].
  • Stott, John. (2003). The Message of Romans. InterVarsity Press. (Ulasan mengenai kedegilan daging dan keterbatasan kodrati manusia).