Mohon tunggu sejenak...

Mohon tunggu sejenak...

RG003

Sehat Bersosial

Ilustrasi

Kejadian 18 ayat 1 sampai 8 "Ketika ia mengangkat mukanya, ia melihat tiga orang berdiri di depannya. Sesudah dilihatnya mereka, ia berlari dari pintu kemahnya menyongsong mereka, lalu sujudlah ia sampai ke tanah... Biarlah diambil sedikit air, basuhlah kakimu dan duduklah beristirahat di bawah pohon; biarlah kuambil sepotong roti, supaya segar kembali hatimu..."

Manusia tidak diciptakan untuk hidup sendirian. Selain sebagai makhluk pribadi, manusia juga dibentuk sebagai makhluk sosial yang membutuhkan interaksi dengan sesama. Aktivitas bersosial merupakan bagian mendasar dari kehidupan batiniah, sama seperti berpikir dan merasakan sesuatu. Dalam realitas sehari-hari, terdapat kondisi di mana seseorang mengalami gangguan dalam berelasi atau sebaliknya, memiliki hubungan sosial yang sehat. Bagaimanakah cara menjaga diri agar tetap memiliki kehidupan sosial yang sehat sesuai prinsip rohani?

Naskah Kitab Kejadian mencatat sebuah teladan indah dari kehidupan Abraham saat berada di dekat pohon tarbantin di Mamre. Ketika sedang duduk di pintu kemah dalam cuaca yang terik, datanglah tiga orang asing berkunjung. Tanpa keraguan, Abraham segera menunjukkan rasa hormat yang mendalam, menyambut mereka dengan sujud, serta menawarkan air pembasuh kaki dan keteduhan pohon untuk beristirahat. Kebaikan batin Abraham terpancar dari kesigapannya dalam menyambut sesama.

Pelayanan yang diberikan oleh Abraham tidak sekadar formalitas basa-basi. Ia segera meminta Sara untuk mengolah tepung terbaik menjadi roti bundar yang segar, serta bergegas memilih anak lembu yang empuk untuk dihidangkan bersama dadih dan susu. Meskipun berstatus sebagai seorang pemimpin besar dan dihormati pada zamannya, Abraham tidak segan untuk merendahkan diri dan berdiri di dekat para tamunya sebagai seorang pelayan. Sikap bersahaja ini memperlihatkan bahwa kesehatan sosial sejati selalu dimulai dari hati yang bebas dari keangkuhan.

Kebenaran:

Abraham memberikan teladan iman yang nyata melalui keramahan dan kerendahan hati dalam menyambut serta melayani para tamu asing di kemahnya.Orang percaya dipanggil untuk menyatakan kasih TUHAN melalui sikap hidup yang peduli dan bersahabat di tengah lingkungan sosial masyarakat.

Penerapan:
  1. Menampilkan wajah yang ramah. Mengembangkan sikap bersahabat kepada sesama dalam interaksi sehari-hari dengan menurunkan nada bicara agar tetap tenang. Sopan santun mendatangkan rasa segan, sehingga usaha untuk tidak menunjukkan wajah cemberut atau kesan acuh tak acuh akan menolong dalam membangun pergaulan lingkungan yang sehat.
  2. Memiliki kerelaan untuk melayani. Menumbuhkan inisiatif untuk menolong orang lain sesuai dengan kapasitas yang dimiliki. Jika bantuan dalam bentuk materi belum mampu diberikan, kehadiran yang tulus, kesediaan meluangkan waktu untuk mengobrol dengan baik, serta kebiasaan menyapa tetangga merupakan wujud nyata dari jiwa sosial yang menghidupkan kebaikan.

Kehidupan sosial yang sehat bagi seorang Kristen tidak diukur dari seberapa luas jaringan pertemanan, melainkan dari ketulusan hati untuk bersikap ramah, suka menolong, serta kerelaan dalam melayani sesama manusia tanpa memandang status. Kebaikan yang ditabur melalui tindakan kecil harian akan menciptakan kedamaian di dalam lingkungan sekitar. Sudahkah kehadiran diri ini membawa dampak yang menyehatkan bagi sesama hari ini?

Komentar