Mohon tunggu sejenak...

Mohon tunggu sejenak...

RG005

Proaktif Membawa Damai

Ilustrasi

2 Korintus 5:18-20 dan Kolose 3:13 "Semuanya ini dari Allah, yang telah mendamaikan kita dengan diri-Nya oleh Kristus dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami... Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian."

Aturan di dalam masyarakat biasanya menuntut pihak yang bersalah untuk datang lebih dahulu dan meminta maaf. Namun, hikmat yang dari TUHAN itu murni dan penuh belas kasihan, seperti yang tertulis dalam Kitab Yakobus 3 ayat 17. Orang Kristen dipanggil untuk meneladani Kristus dengan mengambil inisiatif dalam membawa damai tanpa menunggu orang lain bergerak terlebih dahulu. Bagaimanakah cara meneladani Kristus dalam mengulurkan tangan perdamaian kepada sesama?

Dalam konteks Kitab 2 Korintus, Rasul Paulus sedang membela pelayanan kerasulannya sekaligus mengatasi perpecahan yang terjadi di jemaat Korintus. Harapan utamanya adalah agar relasi jemaat kembali teguh, baik hubungan dengan Allah maupun dengan sesama manusia. Melalui surat ini, terlihat jelas bahwa pendamaian sejati selalu dimulai dari inisiatif Allah sendiri melalui pengorbanan di atas kayu salib.

Tuhan Yesus, yang sama sekali tidak memiliki kesalahan, justru mengulurkan tangan-Nya terlebih dahulu untuk mengampuni manusia. Sikap mulia ini menunjukkan belas kasihan serta kerendahan hati yang sangat luar biasa. Kini, Allah mempercayakan tugas mulia tersebut kepada orang percaya sebagai utusan-utusan-Nya di tengah dunia. Tugas sebagai pembawa damai ini menuntut kerelaan hati untuk menurunkan ego demi memulihkan hubungan yang retak.

Kebenaran:

Rasul Paulus menegaskan kepada jemaat di Korintus bahwa Allah telah memulai pendamaian melalui Kristus dan mempercayakan tugas pemulihan relasi tersebut kepada umat-Nya.Orang percaya dipanggil untuk mengampuni sesama dengan mengambil langkah awal demi menciptakan kedamaian yang mencerminkan kasih TUHAN.

Penerapan:
  1. Mengambil langkah awal untuk mengampuni. Menyelesaikan masalah relasi yang sedang renggang—baik dengan pasangan, keluarga, teman, atau rekan kerja—tanpa menunggu pihak lain datang meminta maaf. Turunkan ego, lepaskan kebanggaan diri, dan mulailah mendoakan orang yang menyakiti batin. Berikan salam, senyuman, atau sapaan terlebih dahulu, karena perdamaian terwujud bukan karena masalahnya kecil, melainkan karena kasih TUHAN di dalam diri jauh lebih besar daripada luka yang diterima.
  2. Memaafkan dengan ketulusan hati. Melepaskan kepahitan, kebencian, dan dendam dari dalam batin secara jujur dan ikhlas, bukan hanya sekadar ucapan di bibir saja. Kepahitan hidup bekerja seperti tali besar yang mengikat erat dan mencekik batin, sehingga menghalangi rasa damai dan sukacita. Pengampunan yang tulus bertindak seperti gunting besar yang memotong tali pengikat tersebut; meskipun bekas luka mungkin masih ada, diri telah dibebaskan dari belenggu sakit hati demi kedamaian batin sendiri.

Meneladani TUHAN berarti memiliki kesiapan untuk selalu mengambil inisiatif dalam mengampuni dan mengembalikan persekutuan yang damai di antara sesama manusia. Mengampuni orang lain pada hakikatnya bukan untuk keuntungan orang yang bersalah, melainkan untuk kebebasan batin dan pertumbuhan iman diri sendiri di hadapan TUHAN. Jalani hidup dengan hati yang bersih tanpa menyimpan dendam lama. Sudahkah ada kerelaan untuk mengampuni dan menyapa sesama dengan ketulusan hari ini?

Komentar